Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Maret 2011

Seberapa besar kepedulian kita??

Bayangkan jika sampah-sampah ini tetap dibiarkan mengotori lingkungan kita, memenuhi saluran air di sekitar kita?
Seberapa besarkah kepedulian kita? untuk membersihkannya?

 

Lalu jika ada orang, walaupun terpaksa memunguti sampah-sampah itu, mengambilnya dari tempat yang tidak semestinya. Tidakkah kita melihat bahwa yang mereka lakukan juga menguntungkan bagi kita? Pernahkah kita membandingkan keuntungan yang kita peroleh dengan keuntungan yang mereka peroleh dari sampah-sampah yang mereka ambil itu?
  

Bukankah jika sampah-sampah itu menjadi sarang nyamuk di sekitar rumah kita bisa menyebabkan wabah penyakit???
Pernahkah kita mengitung seberapa besar peran mereka dalam memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk-nyamuk itu??

Pernahkah kita mau berkotor-kotor memngambil sampah-sampah itu dari saluran air disekitar kita?
Bayangkan jika mereka tidak pernah mengambil sampah-sampah itu?

Wahai saudaraku,..... marilah kita lebih peduli.......
Setidaknya pada kesehatan kita.....
pada kenyamanan tinggal kita...
Kalaupun kebetulan mereka yang kerjaannya memunguti sampah-sampah itu kehidupannya kurang seberutung kita....
itu mungkin sudah nasib mereka.
Do'akan saja agar mereka tetap tabah menghadapinya.....

Sabtu, 08 Januari 2011

Sore Pulang Mulung

Walau buat besok belum pasti, bersyukur hari ini masih dapat rizki.....
Buat medapatkan sesuap nasi...

Selasa, 10 Agustus 2010

Agar Shaum tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga:

1. Terimalah perintah shaum dengan keimanan dan semata-mata mengharap ridha Alloh.
2. Shaumlah seperti orang-orang sebalum kita (Rasul dan para sahabat) shaum. Bukan hanya mengikuti tradisi.
3. Hitung-hitung (ihtisab) sifat-sifat ketaqwaan apa yang ingin kita latih di bulan Ramadhan ini.
Semoga......

Jumat, 30 Juli 2010

Obrolan Menjelang Ramadhan dengan Teman Pemulung

Alhamdulillah, hampir enam bulan saya telah bersama-sama dengan teman-teman pemulung yang berada di PALUNG. Tidak terasa sudah menjelang shaum lagi, Ramadhan 1431 H akan segera tiba. Inilah shaum pertama saya setelah mengenal para pemulung yang berada di PALUNG.
Dari beberapa kali obrolan saya tahu bahwa yang paling mereka risaukan menjelang shaum yang akan datang adalah bagaimana mereka bisa dapat bekal yang banyak untuk dapat mudik ke kampung halaman. Padahal menjelang Ramadhan biasanya barang-barang rongsokan susah didapat, ditambah lagi harga jual yang turun drastis.
Ketika ditanya, biasanya bagaimana kalau shaumnya?
Mereka hanya "nyengir"..... Rata-rata mereka hanya tamat dua atau tiga hari shaum dalam sebulan.
Kemudian ketika saya tanya bagaimana kalau Ramadhan sekarang mau shaum?..
Mereka menjawab semangat, "Mau, insyaAlloh".
Alhamdulillah... pikirku, ternyata obrolanku akhir-akhir ini ada bekasnya juga.
Tidak percuma hampir setiap hari ngobrol dengan mereka, tentang semangat, tentang keshabaran, tentang keyakinan bahwa rizki, Allohlah yang ngatur. Tentang pentingnya belajar untuk terus meningkatkan ibadah, agar hidup bisa lebih tenang, walaupun dalam keadaan kesusahan.
Bener, senang sekali mendengar mereka punya keinginan untuk shaum dan meningkatkan ibadah lainnya di bulan ramadhan ini. Lalu terpikir seandainya bisa menggembirakan mereka, dengan makanan yang enak ketika berbuka....., dengan pakaian yang bagus untuk merayakan Iedul Fitri.

Yaaa Alloh limpahkanlah rizkiMu untuk mereka menjelang Ramadhan ini. agar mereka benar-benar merasakan nikmatnya mengabdi kepadaMu......

Jumat, 05 Februari 2010

Mereka yang Terjebak di dalam Palung Lautan Kehidupan

Ada banyak perumpamaan yang dibuat untuk menggambarkan kehidupan ini.

Salah satunya ada yang mengatakan kehidupan ini bagai mengarungi lautan samudra. Jika kehidupan ini diumpamakan sebagai samudra tentu orang-orang yang ada dalam kehidupan ini bisa kita umpamakan seperti yang sedang mengarungi samudra.

Ada orang yang mengarungi samudra dengan bahtera yang kuat, berlayar dengan pasti menuju suatu arah tujuan yang jelas, tujuan yang menyenangkan, pantai harapan yang penuh keindahan. Itulah perumpamaan orang yang hidupnya memiliki pedoman yang jelas, berada dalam sistem hidup yang jelas(benar) yang akan membawanya kedalam keselamatan dunia dan akhirat.

Ada juga orang yang berlayar dalam bahtera yang jelek, rusak, berlayar menuju suatu arah tujuan yang mereka sendiri belum tahu pasti. Mereka sebenarnya sedang berlayar ke arah pulau yang penuh bahaya. Itulah perumpamaan orang yang hidupnya tidak berada dalam sistem yang benar, yang tidak memiliki pedoman hidup yang benar. Hidup mereka merugi di dunia dan celaka di akhirat.

Ada juga orang yang berada di samudra tapi tidak mempunyai bahtera, mereka terhanyut oleh derasnya gelombang samudra, mereka terombang-ambing tidak jelas arah, kadang berada di dasar lautan kadang muncul ke permukaan. Ini perumpamaan orang yang hidupnya hanya mengikuti hawa nafsunya, meraka hanya sibuk mengejar kesenangan dunia, hidup bermewah-mewahan tidak peduli keselamatan dirinya di akhirat kelak.

Yang terakhir adalah orang yang terjebak di dalam celah sempit dasar lautan yang disebut palung, mereka tidak bisa bergerak bebas, pandangan mereka pun terbatas, bahkan untuk bernapas pun mereka kesusahan. Inilah perumpamaan orang-orang yang hidupnya termarjinalkan dalam kondisi kehidupan yang hedonis seperti saat ini. Bagi mereka hidup ini sangat sumpek, boro-boro mikir masa depan, untuk menghadapi hari ini saja tidak jelas. Mereka terasing secara sosial ekonomi. Mereka tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya sebagai manusia, yang seharusnya di bimbing untuk dapat mengarungi samudra kehidupan ini. Parahnya lagi, kadang mereka justru dimanfaatkan, dieksploitasi, untuk mendukung kepentingan ekonomi bahkan politik golongan tertentu. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah mereka para pengemis, gelandangan, pemulung dan pengamen. yang benar-benar terpaksa berprofesi seperti itu karena kemiskinannya.

Berfikir membantu mereka tidaklah cukup hanya memberi sesuap nasi, tidak cukup hanya memberi uang koin recehan. Berfikir membantu mereka adalah berfikir bagaimana mengangkat mereka dari dalam palung lautan samudra yang sangat dalam, mengajaknya untuk bersama-sama berada dalam bahtera yang kokoh, menuju pantai harapan yang indah.

Dibutuhkan kepedulian, dibutuhkan suara dari palung hati setiap insan, untuk dapat menyelami palung kehidupan mereka dan mengangkatnya agar bersama-sama dalam bahtera menuju pantai harapan yang indah.

Bandung, 5 Pebruari 2010

Kamis, 04 Februari 2010

Pentingnya Sebuah Kepedulian

Terinspirasi oleh keuletan dan keprihatinan hidup seorang pemulung, saya mencoba menampung barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi yang ada di rumah. Ini juga insyaAlloh saya niatkan untuk mencoba membantu kehidupan mereka dengan apa yang bisa saya lakukan. Kurang kebih dua minggu yang lalu saya memulai memasukan barang-barang bekas, berupa kertas box bekas makanan, kardus, botol dan gelas bekas kemasan air mineral onderdil bekas servis motor, dan sebagainya kedalam karung yang sengaja saya simpan di samping rumah. Hasilnya, ternyata tadi pagi ketika saya lihat karung itu sudah penuh dan saya sudah menyiapkan lagi karung yang baru.
Saya berfikir…..itu baru dari satu rumah, bayangkan jika dari 100 rumah kemudian dikumpulkan dalam waktu sekitar dua minggu berarti akan terkumpul kurang lebih 100 karung. Jika di jual dan di sumbangkan kepada para pemulung yang tiap hari susah payah mengais barang-barang tersebut di tempat sampah, itu merupakan suatu nilai yang luar biasa bagi mereka.
Kemudian saya berfikir sebaliknya, jika barang-barang ini kita buang ke tempat sampah, atau dibiarkan berserakan di sekitar kita. Begitu besarnya potensi mengotori lingkungan di sekitar kita.
Semoga ini menjadi pelajaran agar kita lebih peduli pada lingkungan dan sesama kita.

Uang Buat Beli Beras Bu.......

Dengan berbekal 2 kresek botol-botol bekas air mineral, kemarin saya berkunjung ke "lapak" tempat teman-teman baru saya tinggal. Ya.....para pemulung itu kini menjadi teman-teman baru saya.
Biasanya kami ngobrol di rumah kontrakan temen di Cipadung, belajar, diskusi tentang islam dengan bahasa-bahasa sederhana. Kemarin sengaja saya yang main ke "lapak"nya, setelah beberapa lama ga mampir.
Suasana "lapak" yang semakin sepi ditinggal sebagian penghuninya, yang pindah atau mencoba mencari rezeki dengan jalan lain, karena sudah semakin tidak tahan dengan keadaan ekonomi yang kian tidak menentu.
Kami ngobrol berempat ngobrol tentang makin sulitnya mencari rongsokan, tentang harga-harga kebutuhan yang terus naik, tapi obrolan kami tetap diselingi tawa dan canda.
Saya mencoba mendorong agar mereka tetap semangat menghadapi hidup ini, dan tetap yakin dengan pertolongan Alloh jika kita tetap sabar.
Disela-sela obrolan istri salah seorang pemulung itu, yang sedang memandikan anaknya menghentikan dulu kerjaannya kemudian menyuguhkan air kopi buat kami. Kopi yang baru ia beli(atau mungkin ngutang) dari warung sebelah. Setelah itu ia kembali memandikan 2 anak perempuannya yang lucu-lucu.....
Tidak terasa waktu menunjukkan hampir jam 5 sore, saya pamit untuk pulang.
Sebelum pulang saya menghampiri anak seorang pemulung itu, sambil memberikan beberapa lembar uang buat ia jajan sambil pamitan kepada orang tuanya. Ibunya berterimakasih dan mengajarkan anaknya agar mengucapkan terimakasih kepada saya......
Kemudian dengan lugunya anak itu bilang terima kasih, dan.......... " ini uang buat beli beras....bu." lanjutnya.....
Subhanalloh........

Perjuangan Hidup Seorang Pemulung

Ditengah rame-ramenya proses pengungkapan kasus skandal Bank Century yang katanya merugikan negara milyaran rupiah. Ditengah hingar bingarnya rencana pesta kembang api menyambut tahun baru.

Ini adalah sebuah kisah realitas kehidupan yang terjadi di sekeliling kita.
Minggu kemarin dalam suasana Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1431 H. Alloh mempertemukan saya dengan seorang pemulung perantauan asal purwokerto yang sudah bertahun-tahun hidup di Bandung.
Ia hidup di sebuah "Lapak" milik majikannya yang suasananya carut-marut jauh dari standar kesehatan yang normal.
Namanya Gatot, ia merantau ke Bandung ikut dengan ayah dan ibunya yang juga seorang pemulung.
Ia sudah berkeluarga dengan 2 orang anak yang masih balita, yang ikut hidup bersamanya di lapak yang kumuh itu.
Ketika saya ngobrol tentang kondisi kehidupannya, ia bercerita tentang kesulitan ekonominya. Penghasilannya yang tidak menentu, habis dipakai menutupi lubang utang di warung majikannya yang kian dalam karena seringnya tidak bisa ia tutup dengan penghasilannya. Tapi ia bercerita dengan ringan saja sepertinya kehidupan seperti itu adalah biasa, ia tidak seperti memikul beban berat.
Ia tidak seperti menyesali nasib yang menimpa dirinya.
.......
Cerita di atas bagi kita mungkin hal yang biasa. Bahkan seringnya kita berprasangka kurang baik terhadap mereka, karena banyak cerita memang, pemulung yang kadang berpanjang tangan mengambil barang orang.
Tapi, yang luar biasa bagi saya adalah, ketika saya bertanya kepadanya apa yang ia harapkan, inginkan dalam kehidupannya. Ia menjawab, " Saya ingin menjadi orang yang baik Pak. Saya ingin belajar agama, ingin ada yang membimbing saya agar saya bisa beribadah. Saya ingin belajar baca Qur'an".
Subhanalloh.........sebuah keinginana yang luar biasa.....keinginan yang tidak pernah saya duga.
Inilah sebuah perjuangan kehidupan yang sesungguhnya,....perjuangan seorang hamba Alloh yang ingin mencari ridhaNya.

Maka,...tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyanggupi keinginannya untuk menjadi pembimbingnya, belajar tentang agama, belajar baca tulis Qur'an, walaupun saya sendiri merasa belum cukup pintar untuk itu tapi.....Bismillah saya niatkan untuk memulai.

Ada keinginan besar dalam diri saya untuk bisa membantu lebih......
Mudah-mudahan diberikan jalan.....
Teman-teman mohon do'anya!
Barangkali ada yang mau berbagi dengan mereka ..........